ANALISIS NILAI MORAL DAN ETIKA NOVEL “SUKRENI GADIS BALI”

     Karya sastra merupakan bagian dari kebudayaan, kelahirannya di tengah-tengah masyarakat tiada luput dari pengaruh sosial dan budaya. Pengaruh tersebut bersifat timbal balik, artinya karya sastra dapat memengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat. Karya sastra adalah gambaran kehidupan. Walaupun sebagai gambaran, karya sastra tidak pernah menjiplak kehidupan. Menurut Saini K. M. (dalam http://grms.multiply.com/journal/item/26), karya sastra merupakan hasil pemikiran tentang kehidupan yang berbentuk fiksi dan diciptakan oleh pengarang untuk memperluas, memperdalam dan memperjernih penghayatan pembaca terhadap salah satu sisi kehidupan yang disajikannya. Pengarang adalah anggota masyarakat dan lingkungannya. Dengan demikian, terciptanya sebuah karya sastra oleh seorang pengarang secara langsung atau tidak langsung merupakan kebebasan sikap budaya pengarang terhadap realitas yang dialaminya.
     Oleh sebab itu, dalam proses penciptaan karya sastra lebih banyak disebabkan oleh kontinuitas kehidupan yang tidak pernah habis antara nilai realitas sosial dengan nilai ideal dalam diri pengarang. Sebagaimana pendapat Saini K.M di atas, Sapardi Djoko Damono menegaskan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan itu sebagai suatu kenyataan sosial yang menyangkut hubungan masyarakat dengan orang perorang, antara manusia dan antara peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Menurut Sapardi Djoko Damono (dalam http://grms.multiply.com/journal/item/26), bagaimanapun juga peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang yang menjadi bahan sastra adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat. Selaras dengan pendapat Sapardi Djoko Damono tersebut, Jakob Sumardjo (dalam http://grms.multiply.com/journal/item/26) menyatakan bahwa “perkembangan individu sastrawan banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, termasuk masyarakatnya. Seorang sastrawan belajar menjadi sastrawan dari lingkungan masyarakatnya. Latar belakang sosial dan budaya masyarakat memengaruhi bentuk pemikiran dan ekspresi sastrawan”. Jadi, karya sastra seorang pengarang mengandung nilai-nilai kognitif konteks budaya dan nilai-nilai ideal kehidupan pengarang.
     Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan  serangkaian peristiwa secara tersusun. Namun, jalan ceritanya dapat menjadi suatu pengalaman hidup yang nyata, dan lebih dalam lagi novel mempunyai tugas mendidik pengalaman batin pembaca atau pengalaman manusia. Novel lahir dan berkembang dengan sendirinya sebagai sebuah genre pada cerita atau menceritakan sejarah dan fenomena sosial. Karya sastra termasuk novel mempunyai fungsi dulce et utile yang artinya menyenangkan dan bermanfaat bagi pembaca melalui penggambaran kehidupan nyata. Sebagai karya cerita fiksi, novel sarat akan pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan. Oleh sebab itu, novel harus tetap merupakan cerita menarik yang mempunyai bangunan struktur yang koheren dan tetap mempunyai tujuan estetik. Dengan adanya unsur-unsur estetik, baik unsur bahasa maupun unsur makna, dunia fiksi lebih banyak memuat berbagai kemungkinan dibandingkan dengan yang ada di dunia nyata. Semakin tinggi nilai estetik sebuah karya fiksi, secara otomatis akan memengaruhi pikiran dan perasaan pembaca.
     Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang di  dalamnya memuat nilai-nilai estetika dan nilai-nilai pengetahuan serta nilai-nilai kehidupan. Dengan demikian,  sastra sebagai teks harus dilihat pula dalam konteks. Seorang pengarang menciptakan novel dalam konteks tertentu, cerita yang dilukiskan di dalamnya bersumber dari masyarakat imajiner yang dikehendaki atau ditolaknya. Oleh sebab itu, pengarang sebagai bagian dari masyarakat dengan kekuatan imajinasinya dapat melahirkan sebuah karya sastra dari permasalahan sosial masyarakat yang melingkupinya. Ia selalu terikat oleh pengalaman hidupnya, pengetahuannya, pendidikannya, tradisinya, wawasan seninya, dan sebagainya. Ia hidup dan berelasi dengan orang-orang dan lingkungan sosial budaya di sekitarnya, maka tak mengherankan kalau terjadi interaksi dan relasi antara pengarang dan masyarakatnya. Kegelisahan masyarakat menjadi kegelisahan para pengarang. Begitu pula harapan-harapan, penderitaan-penderitaan, aspirasi mereka menjadi bagian pola diri pribadi pengarang-pengarangnya. Itulah sebabnya sifat dan persoalan suatu zaman dapat
dibaca dalam karya-karya sastranya (Jakob Sumardjo dan Saini K.M, 1991:3).
     Pernyataan di atas menandakan bahwa suatu karya sastra tidaklah akan cukup diteliti dari aspek  strukturnya saja tanpa kerjasama dengan disiplin ilmu lain, karena masalah yang terkandung di dalam karya sastra pada dasarnya merupakan masalah masyarakat. Adakalanya, seni sastra juga dapat mewakili kehidupan masyarakat pada saat karya sastra itu diciptakan. Karya sastra diciptakan untuk dinikmati, dipakai, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Pengkajian terhadap karya sastra merupakan pemahaman karya sastra yang lebih baik. Dengan demikin karya sastra dapat dinikmati lebih intens serta dapat dimanfaatkan untuk memahami hidup ini (Teeuw, 1984:18). Selain untuk dinikmati, karya sastra juga perlu dikritisi baik dalam bentuk memberikan pujian, mengatakan kesalahan, memberikan pertimbangan lewat pemahaman dan penafsiran sistematik yang disebut kritik sastra. Kritik sastra juga berfungsi untuk menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra tersebut.
     Oleh sebab itu, dalam makalah ini penulis mengkritisi novel karya A. A. Panji Tisna yang berjudul “Sukreni Gadis Bali” untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam novel tersebut.

Silahkan dowmload makalahnya disini :



Terima kasih dan semoga bermanfaat...
jangan lupa komentarnya ya...!!!



Artikel Terkait: